Blitar – Kampung Coklat kembali menjadi tuan rumah kegiatan Pondok Ramadhan yang diikuti oleh para pelajar dari berbagai sekolah di Blitar. Acara ini digelar pada tanggal 17 Maret 2025 dengan peserta dari SMAN Sutojayan, sementara pada 19 Maret 2025 giliran siswa dari SMAN 4 Kota Blitar yang berpartisipasi.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman keagamaan, memperdalam nilai-nilai Islam, serta menanamkan semangat kebersamaan di bulan suci Ramadhan.
Dalam menghadapi tantangan kehidupan modern yang penuh dengan keberagaman, Nanang Zamroji, M.Pd.I, dosen Universitas Madani Indonesia (UMINA), menjelaskan dalam paparannya mengenai Penguatan Moderasi Beragama kepada ratusan siswa siswi SMAN Sutojayan dan SMAN 4 Kota Blitar.
Keberagaman sebagai Keniscayaan
Indonesia dikenal sebagai negara dengan keberagaman luar biasa, baik dari segi agama, budaya, etnis, bahasa, maupun golongan. Namun, kondisi ini juga membawa potensi konflik jika tidak disertai dengan sikap saling menghormati dan memahami perbedaan. Oleh karena itu, moderasi beragama hadir sebagai perekat yang mempererat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah.
Nanang menyoroti berbagai kasus intoleransi dan kekerasan di sekolah sebagai contoh nyata dampak dari kurangnya pemahaman terhadap moderasi beragama. Salah satunya adalah kasus Fatimah Azzahra, siswi kelas X SMAN 1 Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, yang dilarang menggunakan jilbab karena aturan seragam sekolah. Kasus lain yang menjadi perhatian adalah kekerasan yang menimpa siswa MTS Negeri 1 Kotamobagu, yang berujung pada meninggalnya seorang siswa akibat perundungan.
Mengapa Moderasi Beragama Penting?
Moderasi beragama tidak hanya sebatas konsep, tetapi juga memiliki sembilan kata kunci utama, yaitu:
- Kemanusiaan
- Kemaslahatan umum
- Adil
- Berimbang
- Taat konstitusi
- Komitmen kebangsaan
- Toleransi
- Anti-kekerasan
- Penghormatan kepada tradisi
Dengan menerapkan nilai-nilai ini, diharapkan masyarakat dapat hidup berdampingan secara harmonis tanpa terjebak dalam ekstremisme atau intoleransi.
Cara Menjadi Generasi Moderat
Menurut Nanang, generasi muda harus aktif dalam menumbuhkan sikap moderat melalui beberapa langkah:
- Pelajari berbagai versi informasi – Dengan memahami berbagai perspektif, seseorang tidak akan mudah menyalahkan atau menolak perbedaan.
- Berpikir kritis – Tidak mudah percaya pada informasi awal, tetapi selalu melakukan verifikasi kebenaran dari berbagai sumber terpercaya.
- Menjadi pendengar yang baik – Mampu memahami berbagai sudut pandang sebelum membuat kesimpulan.
- Tidak mudah menghakimi – Menghargai perbedaan sebagai kekayaan bangsa.
- Bangun komunikasi lintas komunitas – Memperluas wawasan dengan menjalin hubungan baik dengan berbagai kelompok masyarakat.
Duta Moderasi Beragama
Pada akhir pemaparannya, Nanang Zamroji mengajak para peserta untuk menjadi Duta Moderasi Beragama. Dengan motto “Siap Menjaga NKRI”, generasi moderat diharapkan memiliki karakter toleran, cinta tanah air, cinta budaya, dan cinta damai.
“Bangga menjadi duta moderasi beragama! Mari kita jaga keberagaman sebagai kekuatan, bukan pemecah belah,” tutupnya.
















